Jepang mulai meningkatkan kewaspadaannya di tengah kekhawatiran eksekusi mati mantan pemimpin sekte, Shoko Asahara, dan anggota sekte kiamat yang melakukan serangan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo pada 1995, kemungkinan memicu tindakan pembalasan oleh pendukung atau kelompok baru serupa yang fanatik.
Departemen Kehakiman Jepang menggantung Shoko Asahara pada Jumat 6 Juli bersama enam anggota sekte kiamat Aum Shinrikyo lainnya, setelah mereka terbukti bersalah mendalangi serangan gas sarin yang menewaskan 13 orang.
Dilaporkan Reutes, 7 Juli 2018, polisi dan badan intelijen keamanan publik mengumpulkan intelijen dan memantau pengikut Asahara. Seorang pejabat polisi senior mengatakan bahwa pengikut sekte kiamat Aum Shinrikyo masih tetap aktif.

Badan keamanan Jepang mencari 16 fasilitas milik tiga kelompok di seluruh Jepang pada Jumat kemarin, termasuk para penerus resmi sekte dan anak organisasi yang didirikan oleh mantan juru bicara Aum.
Dalam foto ini menunjukkan pemimpin dan anggota sekte kiamat Aum Shinrikyo yang dieksekusi (dari atas kiri ke kanan): Shoko Asahara (pemimpin), Tomomasa Nakagawa, Seiichi Endo, dan Masami Tsuchiya. (kiri bawah ke kanan) Yoshihiro Inoue, Tomomitsu Nimi, dan Kiyohide Hayakawa.[Kyodo News via AP, File]

Eksekusi mati pemimpin membuat media lokal menyelidiki bagaimana sekte kiamat Aum Shinrikyo dapat merekrut para pengikutnya, pasalnya banyak dari mereka yang masih muda dan berpendidikan tinggi, dan apakah cabang atau kelompok yang baru terbentuk dapat melakukan serangan serupa.
Harian bisnis Nikkei mengatakan dalam editorialnya tentang pengaruh sekte kiamat Aum Shinrikyo dan bahwa aliran ini masih aktif merekrut orang-orang muda.

“Dari sudut-sudut jalan, universitas, dan dunia internet, kelompok-kelompok sekte yang menargetkan anak-anak muda belum hilang,” tulis editorial Nikkei.
“Banyak kondisi bagi orang muda untuk jatuh ke dalam kegelapan sekte, seperti dikucilkan, ketidakpuasan dengan negara, dan penyebaran ide-ide ekstrem, yang sebenarnya menjadi lebih kuat.”
Sekte kiamat Aum Shinrikyo, yang memadukan meditasi Buddha dan Hindu dengan ajaran apokaliptik, memiliki setidaknya 10.000 anggota di Jepang dan di luar negeri pada masa puncaknya, bahkan para pengikut termasuk lulusan dari beberapa universitas terkemuka di Jepang.

Hirohito Suzuki, seorang profesor sosiologi di Sekolah Pascasarjana Desain Proyek di Tokyo, mengatakan kombinasi pengawasan yang lebih besar terhadap cabang Aum Shinrikyo dan kesadaran masyarakat yang lebih besar menyebabkan kelompok ini untuk mendapatkan senjata atau melakukan pelatihan militer. Individu yang mengidentifikasi dengan sekte atau Asahara lebih mungkin untuk memulai serangan.
“Ada kemungkinan bahwa orang-orang yang bersimpati dengan Asahara dapat meluncurkan tindakan kekerasan di kota-kota, atau dekat stasiun. Sangat sulit bagi pihak berwenang untuk memantau individu yang sendirian,” tambah Suzuki.
Pemimpin sekte kiamat Aum Shinrikyo, Shoko Asahara, menjadi otak serangan gas sarin pada 1995 di kereta bawah tanah Tokyo yang menewaskan 13 orang dan membuat 6.000 orang terluka atau cacat permanen.

Juru bicara pemerintah Jepang, seperti dilansir dari Associated Press, Yoshihide Suga, menegaskan Asahara dieksekusi Jumat oleh Pihak berwenang dan disusul oleh enam anggota sekte lainnya dengan cara digantung.
Lahir dengan nama Chizuo Matsumoto pada tahun 1955, Shoko Asahara mendirikan sekte kiamat Aum Shinrikyo, atau yang berarti kebenaran tertinggi pada pertengahan 1980-an. Sekte ini mulai menarik orang-orang muda yang kecewa dengan cara hidup materialistis modern. Setengah buta, dengan rambut kusut dan janggut, Asahara adalah tokoh kunci dalam serangan acak dan mematikan yang memukau menargetkan komuter Tokyo, Jepang.

source: Kompas