Kita tahu belajar Matematika dapat menambah kecerdasan otak, tapi kalau orang tua mempercayai tempat kursus yang tidak bagus bagaimana?

Kumon termasuk ke dalam daftar kursus matematika terbaik. Namun, ternyata ada pandangan sebaliknya yang beranggapan kalau Kumon bukanlah tempat kursus matematika terbaik, bahkan sampai membuat berbagai alasan. Memang postingan kali ini sedikit kurang baik karena termasuk dalam provokasi, namun tidak ada salahnya untuk Anda mengetahui kenapa masyarakat membenci kursus matematika satu ini.

 

  • Kursus di Kumon terlalu mahal dan tidak pas harganya

Siapa sih yang tidak mempertimbangkan masalah biaya saat sedang mencari tempat kursus? Inilah yang menjadi alasan kenapa Kumon dibenci oleh beberapa masyarakat, harga untuk kursus di Kumon sangatlah mahal. Untuk tingkatan SD dan TK, biaya kursus adalah Rp 370.000 per bulannya. Harga tersebut nyaris hanya untuk membeli lembar kerja saja. Karena, siswa hanya mendapat 10 lembar soal saja dan jika dihitung-hitung, biaya untuk lembar kerja tidak sampai 10 persen dari biaya bulanan kursus di sana.

Memang sih ada biaya untuk menggaji guru dan membayar instruktur dari Kumon. Tetapi, guru di Kumon berbeda dengan tempat les matematika lainnya, guru cenderung hanya memberikan lembar kerja dan melihat hasil dari yang dikerjakan siswanya saja. Dengan kata lain, guru tidak memberikan pengajaran dan hanya menunggu siswanya selesai mengerjakan soal.

  • Beda tempat beda suasana beda pengajaran

Kumon merupakan franchise, sehingga masalah kualitas dari tempat kursusnya tergantung dari lokasi tempat kursusnya. Masing-masing lokasi memiliki karakteristik guru yang berbeda, ada guru yang galak dan ada juga yang ramah dan membantu dalam mengerjakan lembar soal.

  • Guru di Kumon tidak mengajar dengan serius

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kalau guru di Kumon hanya memberikan lembar kerja dan menunggu hasil dari yang dikerjakan siswa. Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Kumon agar menumbuhkan sikap mandiri dalam mengerjakan lembar soal. Namun, di dalam belajar seharusnya ada interaksi antara guru dan siswanya.

Memang sih mandiri itu sangat penting, tetapi interaksi sosial juga tidak kalah penting, ada kalanya untuk melakukan interaksi antara guru dan siswa.

  • Kursus yang membosankan dan cenderung bikin stress

Ada yang bilang kursus di Kumon itu membosankan. Memang sih bisa dibilang kursus di sana cukup membosankan, karena siswa harus mengulang lembar kerja yang sama selama 6 kali. Mungkin maksudnya adalah agar siswa yang brsangkutan akan semakin lancar dalam menjawab soal tersebut. Namun, mengulang merupakan hal yang membosankan bagi anak.

  • Tidak memecahkan masalah

Sebelumnya sudah dikatakan kalau belajar di kursus Kumon hanya berfokus pada menghitung aritmetika saja dengan maksud anak-anak bisa lancar dalam berhitung. Tetapi, para siswa jugah arus mengerti cara menyelesaikan masalah dari soal. Banyak para siswa yang mengeluh karena mereka tidak paham dengan soal cerita meskipun mereka sudah belajar di Kumon.

 

  • Kumon tidak mengajarkan matematika, melainkan aritmetika saja

Kursus di Kumon bukan membahas konsep waktu, kecepatan, mengolah data, dan lain-lain. Melainkan, hanya fokus pada perhitungan aritmetika saja. Alasan dari metode pembelajaran ini adalah agar siswa dapat memiliki kepercayaan diri dalam belajar matematika karena sudah menguasai dasar menghitung aritmetika saja.